Banten

Dugaan Ijazah Palsu Jokowi Memanas: Pakar IT Temukan Kejanggalan, 'Topi Merah' Sebut Hasil Editing?

Abdurahman | 7 Mei 2026, 09:35 WIB
Dugaan Ijazah Palsu Jokowi Memanas: Pakar IT Temukan Kejanggalan, 'Topi Merah' Sebut Hasil Editing?
Kreator Konten Topi Merah menduga hasil analisis Rismon Sianipar terkait ijazah mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) merupakan hasil rekayasa atau editing. Foto/iNews

AKURAT BANTEN – Isu mengenai keaslian ijazah Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali mencuat ke permukaan dan memicu debat panas di ruang publik.

Terbaru, sebuah analisis dari pakar informatika, Rismon Sianipar, yang menyebut adanya indikasi kejanggalan pada ijazah tersebut, langsung mendapat reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk kelompok yang dikenal dengan sebutan "Topi Merah".

Baca Juga: Heboh Gugatan Ijazah Jokowi di PN Solo, Pengamat Sebut Ada Kejanggalan Hukum

Temuan Rismon Sianipar: Valid atau Manipulasi?

Sebelumnya, Rismon Sianipar, seorang pakar yang kerap vokal dalam analisis digital, memaparkan temuannya yang mengejutkan.

Ia mengklaim menemukan sejumlah titik kejanggalan dalam salinan ijazah Jokowi yang beredar.

Menurut analisisnya, terdapat indikasi bahwa dokumen tersebut merupakan hasil olah digital atau editing.

Argumen Rismon didasarkan pada ketidakkonsistenan font, kerapian tata letak yang dianggap tidak lazim untuk dokumen era 80-an, hingga dugaan manipulasi pada stempel universitas.

Sontak, klaim ini bak menyiram bensin ke dalam api di tengah tensi politik yang belum sepenuhnya mereda.

Baca Juga: Kasus Ijazah Jokowi Belum Tuntas, Kuasa Hukum Ungkap Banyak Ahli dan Bukti Jadi Penghambat

Reaksi Keras 'Topi Merah': "Itu Justru yang Hasil Editing"

Menanggapi kegaduhan tersebut, kelompok "Topi Merah" melalui juru bicaranya memberikan pembelaan yang menohok.

Mereka justru balik menuding bahwa analisis yang disuguhkan oleh Rismon-lah yang patut dipertanyakan keabsahannya.

"Kami melihat ada upaya penggiringan opini yang sistematis. Temuan yang disebut sebagai 'bukti' itu justru sangat janggal. Kami menduga visual yang ditampilkan untuk memojokkan Presiden itu sendiri yang telah melalui proses editing sedemikian rupa," tegas perwakilan Topi Merah dalam keterangannya.

Mereka menilai bahwa upaya mempersoalkan ijazah Jokowi adalah "lagu lama" yang sengaja diputar kembali untuk mendelegitimasi sosok kepala negara tanpa dasar hukum yang kuat.

Baca Juga: Jaksa Pertanyakan Bukti Forensik Ijazah Jokowi, Kasus Roy Suryo Cs Terancam Buntu

Mengapa Isu Ijazah Jokowi Terus Bergulir?

Meskipun pihak Universitas Gadjah Mada (UGM) sudah berkali-kali memberikan klarifikasi resmi dan menyatakan bahwa Jokowi adalah benar lulusan Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1980, polemik ini seolah enggan padam.

Para pengamat menilai, fenomena ini terjadi karena:

  1. Polarisasi Digital: Media sosial menjadi wadah subur bagi penyebaran klaim tanpa verifikasi silang yang memadai.

  2. Tingkat Kepercayaan: Adanya celah ketidakpercayaan publik terhadap institusi formal yang dimanfaatkan oleh narasi-narasi alternatif.

  3. Analisis Pakar vs Bantahan: Pertarungan argumen antara pakar IT seperti Rismon dengan pihak pendukung pemerintah menciptakan drama yang menarik perhatian massa.

Baca Juga: Refly Harun Skakmat Presiden: Diamnya Jokowi Soal Ijazah Dianggap 'Sengaja' Adu Domba Rakyat?

Menunggu Titik Terang

Hingga saat ini, publik terbelah antara percaya pada validitas akademik yang dinyatakan pihak kampus atau curiga pada analisis digital yang dipaparkan para kritikus.

Namun, satu hal yang pasti, saling tuding mengenai "hasil editing" antara Rismon Sianipar dan Topi Merah ini menambah babak baru dalam drama panjang ijazah orang nomor satu di Indonesia tersebut.

Dibutuhkan transparansi yang lebih dalam atau pembuktian hukum yang final agar isu ini tidak sekadar menjadi komoditas politik tahunan yang hanya menimbulkan kegaduhan tanpa ujung.(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman